Sunday, December 5, 2021

Data dan informasi

Laudon dan Laudon (2020:16), dan Romney et al. (2021:29) menjelaskan bahwa data merupakan fakta yang dikumpulkan, direkam, disimpan, dan diproses oleh sebuah sistem informasi sedangkan informasi adalah data yang telah diorganisasikan dan telah diproses guna memberikan makna dan konteks yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses pengambilan keputusan. Dalam konteks akuntansi, data dan informasi memiliki peran yang penting dalam sistem informasi akuntansi (penjelasan lanjut dapat dilihat pada video berikut).


Hubungan data dan informasi merupakan sebuah siklus yang berkelanjutan tergantung dari kebutuhan para penggunanya. Video berikut menampilkan hubungan data dan informasi.


Proses akuntansi terdiri dari beberapa aktivitas utama, yaitu identifikasi, pencatatan, dan komunikasi (Weygandt et al., 2018:1-4). Proses akuntansi akan memberikan hasil akhir yang berbentuk laporan keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa laporan keuangan merupakan informasi yang berasal dari pengolahan data atas kejadian ekonomi yang dicatat dalam akuntansi. Akan tetapi, informasi yang berasal dari laporan keuangan bukan merupakan siklus akhir dari hubungan data dan informasi. Contoh, asumsikan seorang peneliti ingin membuktikan sebuah hipotesis bahwa meningkatnya rasio pengembalian aset (return on assets) sebuah perusahaan cenderung diikuti dengan peningkatan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio). Berdasarkan hipotesis ini maka peneliti akan melakukan tahapan-tahapan pengumpulan dan pengolahan data guna memperoleh informasi yang dibutuhkan. Berikut contoh tahapan-tahapan yang dimaksud.

Tahap 1. Peneliti akan mengambil data berupa jumlah total aset tahunan, laba bersih tahunan, dan jumlah pembayaran dividen tahunan. Peneliti mengambil data tersebut dari informasi keuangan yang dilaporkan dalam laporan keuangan tahunan sampel penelitian.

Tahap 2. Peneliti memasukkan data tersebut (jumlah total aset tahunan, laba bersih tahunan, dan jumlah pembayaran dividen tahunan) ke dalam sebuah formula guna memperoleh informasi berupa rasio pengembalian aset dan rasio pembayaran dividen.

Tahap 3. Peneliti menggunakan informasi berupa rasio pengembalian aset dan rasio pembayaran dividen sebagai data guna dilakukannya analisis lanjut (misalnya, analisis regresi).

Tahap 4. Peneliti menggunakan hasil analisis sebagai data untuk melakukan interpretasi lanjut yang akan menghasilkan informasi sebagai jawaban atas hubungan rasio pengembalian aset dengan rasio pembayaran dividen.

Berdasarkan contoh tahapan-tahapan diatas maka dapat terlihat bahwa siklus atas data dan informasi adalah bergantung pada kebutuhan dari para penggunanya. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa untuk menghasilkan informasi yang bebas bias (tidak menyesatkan) guna kepentingan pengambilan keputusan maka data yang digunakan wajib bersifat akurat dan layak (Render et al., 2018:22). Brewer et al. (2019:2-3) menunjukkan bahwa data yang valid dan reliabel merupakan faktor penting dalam menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi manajer untuk melaksanakan beberapa aktivitas vital, seperti perencanaan (yang akan diikuti oleh penganggaran), pengendalian (yang akan diikuti oleh pengawasan dan evaluasi), dan pengambilan keputusan.  

Referensi

Brewer, P. C., Garrison, R. H., & Noreen, E. W. (2019). Introduction to Managerial Accounting, 8th Edition. New York: McGraw-Hill Education.

Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2020). Management Information Systems: Managing the Digital Firm, 16th Edition. New Jersey: Pearson Education Inc.

Render, B., Stair, Jr., R. M., Hanna, M. E., & Hale, T. S. (2018). Quantitative Analysis for Management, 13th Edition. Harlow: Pearson Education Limited.

Romney, M. B., Steinbart, P. J., Summers, S. L, & Wood, D. A. (2021). Accounting Information Systems, 15th Edition. Harlow: Pearson Education Limited.

Weygandt, J. J., Kimmel, P. D., & Kieso, D. E. (2018). Accounting Principles, 13th Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.




Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Friday, December 3, 2021

Akuntan pendidik tak perlu berlebihan menjiwai mental akuntansi

Kontributor:

Novi Swandari Budiarso, Winston Pontoh


Mental akuntansi (mental accounting) adalah salah satu topik hangat yang diperdebatkan secara ilmiah oleh para peneliti. Dalam literatur keuangan, mental akuntansi berhubungan erat dengan perilaku investor dalam menghadapi fluktuasi dalam pasar modal. Hasil riset dari Kahneman dan Tversky (1979), dan Grinblatt dan Han (2005) mengungkap bahwa mental akuntansi sering menjadi dasar dalam pengambilan keputusan investasi oleh para investor. Mental akuntansi merupakan salah satu konsep yang berasal dari teori prospek (prospect theory). Mental akuntansi digambarkan sebagai perilaku menghindari risiko oleh investor yang didasarkan pada sifat oportunistis. Pada sisi positif, mental akuntansi sangat diperlukan oleh investor untuk menghindari terjadinya kerugian investasi yang signifikan.

Kondisi pasar tenaga kerja saat ini menciptakan tingkat persaingan yang tinggi karena adanya tuntutan kualitas sumber daya manusia yang tinggi dalam kompetensinya. Seringkali, talenta juga berperan penting dalam menentukan tingkat kecerdasan seorang manusia. Akuntan adalah salah satu profesi yang menghadapi kondisi persaingan yang sama dalam permintaan dan penawaran tenaga kerja baik dalam sektor swasta maupun sektor pemerintah. Kondisi ini menyebabkan stabilitas karakter dan perilaku dari seorang akuntan sangat dituntut untuk tidak menyimpang dari moral dan etika dalam menjaga dan mempertahankan kompetensi dan profesionalismenya. Salah satu profesi akuntan yang memegang peranan penting dalam menciptakan tenaga kerja yang profesional dalam kompetensi bidang ilmu akuntansi adalah akuntan pendidik.

Akuntan pendidik adalah tenaga pengajar/dosen yang merupakan titik awal lahirnya para akuntan muda yang berkualitas dan penuh daya saing di bidang akuntansi. Tolak ukur dan panutan dari seorang akuntan pemula adalah para akuntan pendidik dimana filosofi terkenal dari Ki Hajar Dewantara merupakan jiwa dari seorang pendidik. Keagungan semboyan "ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani" atau "teladan di depan anak didik, penggagas di tengah anak didik, dan motivator di belakang anak didik” adalah merupakan sinar seorang pendidik untuk menerangi para anak didiknya melalui penggemblengan, pembelajaran, dan pengajaran dari ilmu pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya.

Profesi akuntan pendidik tidak terlepas dari Tridharma Perguruan Tinggi yang diembannya. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 pasal 2 ayat 2 menyebutkan bahwa “Standar Nasional Pendidikan, Standar Penelitian, dan Standar Pengabdian kepada Masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan tridharma Perguruan Tinggi”. Berdasarkan aturan ini, maka relevansi antara tuntutan profesionalisme seorang akuntan pendidik dengan tuntutan Tridharma Perguruan Tinggi dari peraturan pemerintah yang berlaku dalam merintis karirnya cenderung dapat dipengaruhi oleh mental akuntansi yang menyimpang (sebuah hipotesis).

Hakikatnya, para akuntan pendidik sebagai tenaga pengajar/dosen sering diperhadapkan dengan tantangan terbesar yaitu terkait pencapaian jabatan akademik (misalnya, lektor kepala atau profesor) selain tawaran tugas tambahan. Menghadapi tantangan terbesar ini, prinsip integritas yang berasal dari tuangan moral dan etika adalah merupakan faktor terpenting dari seorang akuntan pendidik dalam menyinarkan kepribadian yang berjiwa besar. Implikasi konsep mental akuntansi akan memberikan dampak yang kurang baik apabila diterapkan secara menyimpang oleh akuntan pendidik yang mengutamakan oportunisme berbasis kepentingan pribadi secara berlebihan terutama jika ego dan subjektivitas adalah diatas segalanya. Beberapa pertanyaan yang menantang mungkin diperlukan oleh seorang akuntan pendidik terkait profesionalisme bidang akuntansi dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi.

1. Mampukah kita sebagai akuntan pendidik mencerminkan nilai-nilai kepribadian yang baik sebagai indoktrinasi dalam membentuk karakter dan mental anak didik? (Bukan berperilaku palsu).

2.  Mampukah kita sebagai akuntan pendidik memberikan ilmu pengetahuan yang cukup bagi anak didik? (Bukan ilmu “pintar dan lihai dalam berkata-kata”).

3.  Mampukah kita sebagai akuntan pendidik mengasah pengetahuan dan keahlian untuk mencapai tingkat kepakaran? (Bukan sekedar pemahaman umum).

4.  Mampukah kita sebagai akuntan pendidik melakukan riset tanpa plagiasi? (Tidak menghalalkan segala cara).

5.  Mampukah kita sebagai akuntan pendidik melakukan riset berbasis kaidah-kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan? (Tidak menyebarkan informasi riset yang bersifat fiktif (hoax), subjektif, provokatif).

6.  Mampukah kita sebagai akuntan pendidik untuk mengembangkan karir tanpa menggunakan hasil karya orang lain? (Tidak berperilaku “mengaku aku” atas hasil karya “diberikan” atau mendompleng). 

7.  Mampukah kita sebagai akuntan pendidik menyebarluaskan gagasan dan ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan oleh masyarakat umum? (Tidak menyebarkan pengetahuan sesat dan merugikan pihak umum).

8. Mampukah kita sebagai akuntan pendidik menjalankan dan melaksanakan tugas tambahan secara bertanggungjawab dengan mengutamakan kepentingan publik? (Tidak mengembangkan atmosfir akademik yang kurang sehat).


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

 

Masa depan profesi akuntan: Sebuah opini

Kontributor:

Novi Swandari Budiarso, Winston Pontoh


Konsep bisnis

Menurut Ebert dan Griffin (2017:38-39), dan Warren et al. (2018:5), konsep bisnis dapat dijelaskan sebagai aktivitas dari sebuah organisasi dalam rangka menyediakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Ebert dan Griffin (2017:38-39) menjelaskan bahwa aktivitas untuk menyediakan barang dan jasa tidak menyebabkan konsep bisnis hanya dibatasi pada organisasi yang berorientasi mengejar profit (profit organization) akan tetapi juga dapat merujuk pada organisasi yang tidak berorientasi mengejar profit (non-profit organization). Ebert dan Griffin (2017:39) mengimplikasikan bahwa baik organisasi profit maupun organisasi non-profit memiliki prinsip yang sama dalam menjalankan bisnis.

 

Dampak teknologi pada perkembangan bisnis

Ebert dan Griffin (2017:38) menekankan bahwa perubahan teknologi merupakan salah satu pemicu utama atas fluktuasi permintaan dan penawaran di dalam sebuah pasar. Pendapat yang sama diutarakan oleh Collinson et al. (2020:11-12) bahwa invensi (ide, sketsa, atau model) yang diwujudkan melalui inovasi dan diaplikasikan menjadi sebuah teknologi baru merupakan titik tolak berkembangnya sebuah bisnis menjadi lebih maju. Hal ini membuktikan pendapat Porter (1985:164) yang mengimplikasikan bahwa teknologi memiliki peran aktif dan penting dalam pengembangan sebuah bisnis sekaligus menentukan faktor keunggulan bersaing (competitive advantage) sebuah organisasi bisnis. Selain itu, kemajuan teknologi memberikan perubahan pada proses dan sistem sebuah organisasi yang mengakibatkan berevolusinya bisnis konvensional menjadi bisnis hibrid (Wood Jr., 2010). Pada sisi lainnya, perkembangan teknologi menciptakan pasar baru melalui kehadiran produk baru yang disebut produk hibrid (Ebert & Griffin, 2017:38).

 

Peran informasi dalam bisnis

Perkembangan kompleksitas organisasi bisnis juga meningkatkan kebutuhan data dan informasi dalam kepentingan pengambilan keputusan. Bodnar dan Hopwood (2013:1) menyatakan bahwa organisasi memiliki ketergantungan dengan informasi guna mempertahankan daya saingnya sehingga kedudukan informasi sebagai sumber daya yang penting adalah setara dengan aset seperti pabrik dan peralatan. Romney et al. (2021:30-31) menjelaskan bahwa pelibatan teknologi informasi menjadi faktor krusial dalam menghasilkan informasi yang bernilai bagi para pengambil keputusan dalam sebuah organisasi bisnis. Hal ini mengimplikasikan bahwa informasi yang dihasilkan dari teknologi informasi mengandung nilai bermanfaat bagi para pemangku kepentingan dalam melakukan pengambilan keputusan guna mempertahankan keberlanjutan dan pengembangan bisnis.

 

Akuntansi dan informasi

Salah satu informasi yang memiliki peranan penting dalam pengambilan keputusan bisnis adalah informasi keuangan (Scott, 2015:21). Secara spesifik, informasi keuangan berasal dari laporan keuangan yang merupakan produk dari ilmu akuntansi. Secara konsep, akuntansi memiliki 3 (tiga) tahapan proses, yaitu mengidentifikasi kejadian ekonomi yang relevan dengan bisnis yang berlangsung, melakukan pencatatan secara sistematis menurut kronologis kejadian ekonomi yang terjadi, dan mengomunikasikan informasi yang dihasilkan kepada para pengguna (Weygandt et al., 2018:1-3). Hal ini menyebabkan akuntansi dapat dipandang sebagai bahasa bisnis dari para penggunanya melalui sistem informasi yang menghasilkan laporan atas aktivitas ekonomi dan kondisi sebuah bisnis (Warren et al., 2018:6). Laporan keuangan di Indonesia merupakan luaran praktik akuntansi yang diselenggarakan berdasarkan pada prinsip akuntansi berlaku umum melalui standar akuntansi yang berlaku. Selain itu, akuntan di Indonesia secara ideal melakukan praktik akuntansi yang mengacu pada kode etik akuntan.

 

Sistem informasi akuntansi dan kecerdasan buatan

Bodnar dan Hopwood (2013:15) menyatakan bahwa sistem informasi akuntansi tidak terlepas dari pemanfaatan teknologi informasi dalam menghasilkan informasi bagi penggunanya. Romney et al. (2021:31) menjelaskan bahwa sistem informasi merupakan kombinasi manusia dan teknologi dalam sebuah organisasi. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa sistem informasi merupakan bentuk sinergitas antara manusia dengan teknologi. Romney et al. (2021:36) menyatakan bahwa sistem informasi akuntansi yang diintegrasikan dengan teknologi merupakan sebuah bentuk kecerdasan yang membantu pengguna dalam menyediakan informasi yang dibutuhkan. Berdasarkan penjelasan ini maka sistem informasi akuntansi berbasis teknologi informasi merujuk pada konsep kecerdasan buatan. Menurut Russell dan Norvig (2010:1), kecerdasan buatan (artificial intelligence) merujuk pada rasionalitas untuk mengerjakan sesuatu dengan benar. Akan tetapi, Russell dan Norvig (2010:1020) juga mengungkapkan bahwa keterbatasan kecerdasan buatan masih menjadi perdebatan ilmiah seiring dengan keberhasilannya dalam membantu banyak pekerjaan manusia. Pada sudut pandang profesi akuntan, penjelasan ini mengimplikasikan bahwa kecerdasan buatan masih memiliki peluang keterbatasan dalam melakukan justifikasi atas identifikasi transaksi akuntansi sehingga peran kecerdasan manusia masih sangat dibutuhkan untuk bersinergi dengan kecerdasan buatan.

 

Profesi akuntan, akankah?

Akuntan adalah seorang manusia yang tidak terlepas dari segala keterbatasan. Akan tetapi, manusia adalah sosok ciptaan Tuhan yang paling mulia dengan talenta yang tidak akan pernah tergantikan oleh sebuah kecerdasan buatan walaupun diselimuti oleh segala keterbatasannya. Talenta merupakan esensi misteri yang memberikan kemampuan bagi seorang manusia untuk menggunakan akal pikirannya melalui hikmat dalam menghasilkan data dan informasi, mengambil keputusan, serta mempertanggungjawabkan segala konsekuensi atas data dan informasi, serta keputusan yang dihasilkan. Perkembangan organisasi bisnis yang semakin kompleks pada umumnya masih sangat membutuhkan peran kecerdasan manusia yang bersinergi dengan kecerdasan buatan. Profesionalisme seorang akuntan masih sangat krusial guna merespon dan mengkaji semua kebijakan organisasi bisnis serta konsekuensinya dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi dari para pemangku kepentingan (misalnya pemerintah, pemegang saham, pihak manajemen, dan publik). Justifikasi profesional seorang akuntan sebagai seorang manusia sangat menentukan dampak informasi keuangan yang dihasilkan dengan memanfaatkan kecerdasan buatan. Akankah profesi akuntan menjadi usang oleh perkembangan teknologi? Hasil akhir berada di tangan para akuntan itu sendiri.

 

Prospek pendidikan akuntansi

Pengembangan pendidikan akuntansi memerlukan kolaborasi berbagai pihak termasuk para akuntan dengan bidangnya masing-masing. Perguruan tinggi negeri dan swasta perlu menyesuaikan kurikulumnya ke arah kompetensi yang dibutuhkan saat ini oleh sektor publik (termasuk di dalamnya sektor pemerintah) dan sektor komersil. Selain itu, pelatihan dan pendidikan berkelanjutan dari berbagai asosiasi profesi perlu dikembangkan guna menjaga dan mempertahankan profesionalisme dari para akuntan. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia dari para akuntan pendidik yang merupakan titik awal dalam menghasilkan para akuntan muda yang memiliki daya saing dalam pasar tenaga kerja.

 

Referensi

Bodnar, G. H., & Hopwood, W. S. (2013). Accounting Information Systems, 11th Edition. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Collinson, S., Narula, R., & Rugman, A. M. (2020). International Business, 8th Edition. Harlow: Pearson Education Limited.

Ebert, R. J., & Griffin, R. W. (2017). Business Essentials, 11th Edition. Harlow: Pearson Education Limited.

Porter, M. E. (1985). Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance. New York: The Free Press.

Romney, M. B., Steinbart, P. J., Summers, S. L, & Wood, D. A. (2021). Accounting Information Systems, 15th Edition. Harlow: Pearson Education Limited.

Russell, S., & Norvig, P. (2010). Artificial Intelligence: A Modern Approach, 3rd Edition. New Jersey: Pearson Education Inc.

Scott, W. R. (2015). Financial Accounting Theory, 7th Edition. Ontario: Pearson Canada Inc.

Warren, C. S., Reeve, J. M., & Duchac, J. E. (2018). Accounting, 27th Edition. Boston: Cengage Learning.

Weygandt, J. J., Kimmel, P. D., & Kieso, D. E. (2018). Accounting Principles, 13th Edition. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.

Wood Jr., T. (2010). Hybrid Organizations. Revista de Administração de Empresas, 50(2), 241-247. https://doi.org/10.1590/S0034-75902010000200008

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.

Analisis varians

Penjelasan analisis varians atau analysis of variance (ANOVA) secara ringkas dapat mengguna...