Thursday, May 26, 2022

Analisis varians

Penjelasan analisis varians atau analysis of variance (ANOVA) secara ringkas dapat menggunakan ilustrasi berikut (modifikasi kasus dari Lind et al., 2018:396). Perlu diperhatikan bahwa ANOVA memerlukan beberapa asumsi, yaitu:

1. Populasi memiliki distribusi normal.
2. Populasi memiliki standar deviasi yang seimbang.
3. Populasi bersifat independen.

Tabel berikut menyajikan tingkat kepuasan pelanggan atas 4 (empat) jasa penerbangan berdasarkan kuesioner yang disebarkan. Pada kasus ini kita ingin mengetahui apakah terdapat perbedaan kepuasan secara rata-rata atas keempat jasa penerbangan tersebut dimana tingkat signifikansi yang digunakan adalah sebesar 5%.

NorthernWTAPuconoBranson
94757068
90687370
85777672
80837865

888074

6865

65

Pada kasus ini, hipotesis yang dibentuk adalah:
H0: rata-rata nilai adalah sama atau tidak berbeda
H1: rata-rata nilai adalah tidak sama atau berbeda

Pengujian hipotesis atas kasus ini menggunakan program aplikasi SPSS yang dapat dilihat pada video berikut.


Hasil ANOVA dengan menggunakan program aplikasi SPSS disajikan berikut.


Perhatikan bahwa nilai F (varians) adalah 8.991 dengan tingkat signifikansi dibawah dari 5% atau 0.001 < 0.05. Kesimpulan atas analisis ini adalah menerima H1 dan menolak H0 dalam arti bahwa rata-rata nilai adalah tidak sama atau berbeda. Selanjutnya, hasil analisis menunjukkan uji beda atas jasa penerbangan yang ada sebagai berikut.


Perhatikan tanda * pada kolom “Mean Difference”. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab perbedaan secara signifikan berasal dari:
1.Jasa penerbangan Northern dengan jasa penerbangan Pucono; dan
2.Jasa penerbangan Northern dengan jasa penerbangan Branson.


Referensi
Lind, D. A., Marchal, W. G., & Wathen, S. A. (2018). Statistical Techniques in Business and Economics, 17th Edition. New York: McGraw-Hill Education.

Thursday, May 12, 2022

Perubahan kepemilikan persekutuan

Disasosiasi atas sebuah persekutuan persekutuan dapat terjadi jika bertambahnya sekutu baru atau berkurangnya sekutu lama. Disasosiasi tidak selalu menyebabkan berhentinya operasi dan akuntansi persekutuan akan tetapi cenderung menyebabkan berubahnya struktur kepemilikan dari persekutuan. Terjadinya perubahan struktur kepemilikan pada sebuah persekutuan mengharuskan para sekutu yang ada untuk membuat perjanjian resmi yang baru menurut hukum yang berlaku. Terjadinya disasosiasi menimbulkan pertanyaan yang dapat dijelaskan dari 2 (dua) perspektif, yaitu:
  • Perubahan struktur kepemilikan mengharuskan seluruh aset persekutuan lama perlu dinilai ulang sebelum diserahkan kepada persekutuan baru.
  • Perubahan struktur kepemilikan hanya terjadi dari sekutu lama kepada sekutu baru sehingga tidak perlu dinilai ulang.
Contoh 1. Pembelian kepemilikan dari sekutu lama
Sebelum masuknya sekutu baru
Persekutuan A dan B memiliki perjanjian untuk membagi laba rugi secara merata. Perincian modal dan kepemilikan masing-masing sekutu disajikan berikut.

SekutuModalKepemilikan
A50,00050%
B50,00050%
Total100,000100%

Setelah masuknya sekutu baru
Sekutu C masuk sebagai sekutu baru dengan membeli 25% kepemilikan A dengan harga IDR 25,000. Perincian modal dan kepemilikan persekutuan yang baru disajikan berikut.

SekutuModal awalTransferModal akhirKepemilikan
A50,000-25,00025,00025%
B50,000-50,00050%
C-25,00025,00025%
Total100,000-100,000100%

Ayat jurnal atas perubahan modal persekutuan yang baru adalah sebagai berikut.

Modal A25,000
Modal C25,000
Mencatat masuknya C ke dalam persekutuan dengan membeli setengah kepemilikan A

Pada kasus ini, modal dan kepemilikan disamakan sebelum dan sesudah masuknya sekutu C dan bukti-bukti mengindikasikan bahwa aset bersih dari persekutuan lama dinilai secara benar. Pembayaran sekutu C sebesar IDR 25,000 untuk 25% kepemilikan mengimplikasikan nilai total persekutuan sebesar IDR 100,000 (IDR 25,000/0.25) dan oleh sebab itu penilaian ulang tidak diperlukan.

Contoh 2. Pembelian kepemilikan dari sekutu lama
Sebelum masuknya sekutu baru
Persekutuan A dan B memiliki perjanjian untuk membagi laba rugi secara merata. Perincian modal dan kepemilikan masing-masing sekutu disajikan berikut.

SekutuModalKepemilikan
A50,00050%
B40,00050%
Total90,000100%

Perhatikan bahwa modal sekutu A dan sekutu B adalah independen dengan kepemilikan masing-masing sekutu (tidak proporsional). Hal ini disebabkan bahwa sekutu A dan sekutu B sepakat bahwa kepemilikan tidak ditentukan dari jumlah modal.
 
Setelah masuknya sekutu baru
Sekutu C masuk sebagai sekutu baru dengan membeli 25% kepemilikan A dengan harga IDR 25,000. Para sekutu setuju bahwa aset bersih tidak perlu dinilai ulang Perincian modal dan kepemilikan persekutuan yang baru disajikan berikut.

SekutuModal awalTransferModal akhirKepemilikan
A50,000-25,00025,00025%
B40,000-40,00050%
C-25,00025,00025%
Total90,000-90,000100%

Ayat jurnal atas perubahan modal persekutuan yang baru adalah sebagai berikut.

Modal A25,000
Modal C25,000
Mencatat masuknya C ke dalam persekutuan dengan membeli setengah kepemilikan A

Perhatikan bahwa penilaian atas aset bersih persekutuan tidak dinilai secara benar walaupun secara perjanjian adalah benar. Hal ini disebabkan karena persekutuan hanya menitikberatkan pada perubahan kepemilikan dan bukan pada proporsi modal dari persekutuan.
 
Contoh 1 dan 2 memiliki keterbatasan dalam kondisi tertentu sehingga membutuhkan solusi dalam menyelesaikan penghitungan kepemilikan berdasarkan jumlah modal yang disetor. Solusi penyelesaian perubahan kepemilikan sebuah persekutuan akan mengacu pada 2 (dua) metode utama yaitu metode goodwill (penilaian ulang) dan metode bonus (tanpa penilaian ulang). Perhatikan konsep dasar dari metode goodwill dan metode bonus pada video berikut.




Referensi
Beams, F. A., Anthony, J. H., Bettinghaus, B., & Smith, K. A. (2018). Advanced Accounting, 13th Edition - Global Edition. Harlow: Pearson Education Limited.

Thursday, May 5, 2022

Aplikasi database arus barang

Aplikasi database arus barang bertujuan untuk mendukung sistem persediaan barang dagang sebuah entitas. Aplikasi ini bersifat sederhana dan prototype sehingga masih dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai dengan kebutuhan usaha, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Aplikasi ini bertujuan menghasilkan informasi barang masuk, barang keluar, dan sisa barang sehingga sangat bermanfaat untuk pengambilan keputusan dasar dalam manajemen persediaan. Aplikasi database arus barang dirancang dengan menggunakan aplikasi Microsoft Access. 

Asumsi-asumsi dalam aplikasi database persediaan yang dibangun

  • Pencatatan akuntansi lain diluar aplikasi database ini dilakukan pada database pendukung yang lain.
  • Tidak terdapat laporan formal lain selain yang ada dalam aplikasi database.
  • Laporan formal aplikasi ini hanya memberikan informasi arus barang dan tidak termasuk informasi arus biaya.
Deskripsi aplikasi database arus barang
Aplikasi database arus barang yang dirancang terdiri dari beberapa menu sebagai berikut.
 
Menu utama
Menu ini merupakan navigasi utama dalam mengisi data arus barang masuk, arus barang keluar, dan laporan-laporan pendukung.


Menu barang masuk
Menu ini berisi formulir untuk mengisi data arus barang masuk. Data barang masuk diukur dalam unit dan tidak diukur dalam mata uang.


Menu barang keluar
Menu ini berisi formulir untuk mengisi data arus barang keluar. Data barang keluar diukur dalam unit dan tidak diukur dalam mata uang.


Menu laporan
Menu ini berisi pencarian barang per unit, barang tersedia, laporan jumlah barang masuk maupun jumlah barang keluar.


Catatan tambahan
Microsoft Access memerlukan beberapa penyesuaian untuk menjalankan aplikasi ini. Buka menu “File” dan pilih “Options”.


Tampilan berikut akan muncul setelah memilih menu “Options”. Ikuti langkah-langkah berikut. 


Pastikan untuk mengaktifkan “switchboard” pada langkah berikut.


Selain itu, dalam menu “Options” ikuti langkah berikut.


Perancangan aplikasi database arus barang dengan Microsoft Access dapat dilihat pada video berikut.

Wednesday, May 4, 2022

Proses bisnis produksi

Pengendalian produksi, pengendalian persediaan, akuntansi biaya, dan akuntansi kekayaan merupakan fungsi yang ada dalam proses bisnis produksi pada perusahaan manufaktur. Pada perusahaan non-manufaktur, beberapa (jika ada) aktivitas produksi merupakan fungsi yang terpisah. Akan tetapi, pada banyak organisasi, fungsi ini menangani persediaan dan mengelola beberapa tipe aktivitas produksi, seperti menjual barang atau jasa. Oleh karena itu, prinsip pengendalian produksi relevan untuk banyak organisasi. 

Perencanaan dan pengendalian produksi. Pengendalian produksi meliputi perencanaan produk yang akan diproduksi dan penjadwalan produksi untuk mengoptimalkan pemakaian sumber daya. Kebutuhan dasar produksi disediakan dengan daftar material (bill of materials) dan daftar operasi master (master operation list). Guna menentukan produk yang akan diproduksi maka diperlukan integrasi atas permintaan produk, kebutuhan produk, dan ketersediaan sumber daya produksi. Informasi atas ketersediaan sumber daya produksi dapat diperoleh dari fungsi perencanaan produksi melalui laporan status persediaan (inventory status reports) dan laporan ketersediaan pendukung (factor availability reports). Laporan status persediaan berisi informasi tentang persediaan yang tersedia untuk diproduksi sedangkan laporan ketersediaan pendukung berisi informasi tentang ketersediaan tenaga kerja dan kesiapan mesin produksi. Pesanan produksi (production order) dijalankan sesuai dengan otorisasi atas departemen produksi untuk membuat produk. Permintaan material (materials requisitions) diterbitkan untuk setiap pesanan produksi untuk mengotorisasi departemen persediaan dalam mendistribusikan material ke departemen produksi seperti yang tercantum di daftar material (bill of materials). Sistem akuntansi biaya berfokus pada pengelolaan persediaan pemanufakturan seperti: bahan baku, bahan baku dalam proses, dan barang jadi. Job costing merupakan prosedur harga perolehan didistribusikan ke pesanan khusus atau pesanan produksi. Job costing memerlukan sistem pengendalian pesanan produksi. Departemen akuntansi biaya bertanggung jawab untuk mengelola file pencatatan biaya barang dalam proses. Catatan baru ditambahkan pada file ini ketika menerima pemesanan produksi yang baru, yang dimulai oleh pengendalian produksi. Biaya material diposting dari job time cards. Biaya overhead selalu dibebankan berdasarkan jam kerja langsung atau biaya tenaga kerja langsung dan semua diposting dalam biaya tenaga kerja. Hal yang sama juga dilakukan untuk mencatat pos barang dalam proses dan barang jadi.
 
Kontrol persediaan. Pengendalian persediaan diwujudkan melalui beberapa pencatatan persediaan dan laporan yang berisi informasi seperti penggunaan persediaan, saldo persediaan, dan level maksimum dan minimum dari persediaan. Titik pemesanan ulang (reorder point) dan prosedur - prosedur dibuat. Titik pemesanan ulang merupakan level persediaan yang digunakan sebagai pertimbangan untuk memesan atau memproduksi unit tambahan untuk menghindari kondisi tidak memiliki persediaan. Pengembangan titik pemesanan ulang memerlukan analisis permintaan produksi, biaya penanganan persediaan, dan biaya yang berkaitan dengan kondisi ketika tidak memiliki persediaan seperti kehilangan kesempatan menjual atau tidak efisiennya penggunaan fasilitas produksi. Tujuan pengendalian persediaan adalah meminimumkan biaya persediaan total sehingga keputusan penting yang dibuat adalah ukuran jumlah dari setiap pesanan pembelian yang disebut titik pemesanan ekonomis (economic order quantity - EOQ). Kuantitas yang dipesan kembali harus menyeimbangkan dua sistem biaya, yaitu biaya penanganan dan biaya pemesanan. Rumus untuk menghitung EOQ adalah:


Di mana:
EOQ       =    economic order quantity (unit)
R            =    kebutuhan untuk item pada suatu periode (unit)
S             =    biaya pembelian per pesanan
P             =    unit biaya
I              =  biaya penanganan per periode, dinyatakan dalam persentase nilai periode persediaan
 
Produksi ramping. Konsep dari sistem ini adalah menjalankan produksi barang atau jasa hanya saat terjadi permintaan atau adanya kebutuhan. Sistem produksi ini menganut asumsi just-in-time (JIT) yang merupakan istilah untuk menjelaskan sistem produksi yang bagian-bagiannya diproduksi hanya ketika diperlukan dalam suatu proses operasi. Produksi ramping berbeda dari sistem produksi konvensional dimana barang dalam proses, bahan baku, dan barang jadi diminimumkan atau secara total dikurangi guna mencapai efisiensi.
 
Aplikasi akuntansi aset. Aplikasi akuntansi atas aset mencakup aset tetap dan investasi suatu organisasi. Unsur penting untuk efektifnya sebuah internal kontrol adalah akurasi dan pemprosesan informasi secara tepat waktu yang berhubungan dengan aset tetap dan investasi. Beberapa pemprosesan informasi akan terlaksana lewat penggunaan aplikasi khusus akuntansi yang menyediakan informasi pada bagian akuntansi, operasional, dan pihak manajemen. Terdapat 4 (empat) tujuan dari aplikasi aset tetap dan investasi:
  1. Mengelola pencatatan yang benar yang mengidentifikasi aset dengan deskripsi, biaya, dan lokasi fisik.
  2. Mencatat penyusutan dan/atau amortisasi dengan benar untuk tujuan internal dan pajak.
  3. Melakukan revaluasi untuk tujuan asuransi dan biaya penggantian.
  4. Menyediakan laporan bagi pihak manajemen dalam rangka perencanaan dan pengendalian setiap aset
Aset tetap adalah kekayaan berwujud seperti tanah, bangunan, mesin, peralatan, dan mebel yang digunakan dalam bisnis normal. Item ini relatif permanen dan sering menunjukkan investasi perusahaan yang terbesar. Transaksi atas aset tetap cenderung tidak sering terjadi dan biasanya melibatkan jumlah uang yang cukup besar. Penggunaan register atas aset tetap (daftar sistematis) perlu dilakukan untuk efektifnya sebuah pengawasan.

Investasi seperti halnya aset tetap memerlukan pencatatan yang terpisah dengan aset yang lain, register atas investasi perlu dilakukan agar tersedianya kontrol atas investasi itu sendiri. Register atas investasi harus mengandung semua informasi yang relevan, seperti nomor sertifikat, dan nilai pari surat berharga, untuk memudahkan identifikasi dan kontrol. Semua transaksi atas investasi perlu di otorisasi dan didokumentasikan.

Tuesday, May 3, 2022

Perjanjian pembagian laba dan rugi

Secara umum, laba atau rugi sebuah persekutuan dapat dibagi secara merata di antara para sekutu jika persekutuan tidak memiliki perjanjian khusus atas pembagian laba atau rugi. Pembagian laba persekutuan berdasarkan rasio tertentu akan lebih mudah diterapkan kecuali jika dalam perjanjian menyatakan bahwa perlakuan yang sama akan diterapkan untuk pembagian rugi atau terdapat perjanjian lainnya dalam persekutuan. Walaupun perjanjian pembagian laba dan rugi secara merata atau berdasarkan rasio tertentu sudah umum akan tetapi pendekatan lain juga dapat diterapkan dalam praktik. Pembagian laba atau rugi secara merata umumnya membutuhkan pertimbangan faktor waktu yang diberikan sekutu dalam mengelola usaha atau jumlah investasi dari masing-masing sekutu. Jika sekutu (aktif) ditugaskan untuk mengelola persekutuan maka penyisihan gaji untuk sekutu tersebut harus dilakukan sebelum laba dibagikan untuk seluruh sekutu. Selain itu, pertimbangan atas biaya bunga modal sekutu perlu dicadangkan jika modal sebagai investasi dalam persekutuan memiliki jumlah yang besar. Perlakuan atas penyisihan biaya bunga modal sekutu tidak memiliki pengaruh pada pengukuran laba persekutuan.


Pertimbangan jasa dalam perjanjian pembagian laba dan rugi. Sesuai penjelasan diatas, penyisihan gaji diberikan bagi sekutu yang secara aktif mengelola usaha persekutuan. Penyisihan gaji tidak hanya bersifat kompensasi tapi digunakan untuk memberikan nilai wajar atas talenta masing-masing sekutu yang mengelola persekutuan. Pada kondisi ini kompensasi pada sekutu aktif dapat berupa penyisihan gaji dan pemberian bonus.
 
Modal sebagai faktor dalam perjanjian pembagian laba. Modal merupakan faktor utama dalam menciptakan pendapatan sehingga sangat diperhitungkan sebagai dasar perjanjian dalam pembagian laba atau rugi bagi para sekutu. Jika modal merupakan dasar pembagian laba atau rugi persekutuan maka perjanjian antar sekutu perlu menyebutkan secara spesifik bagaimana konsep modal atas pembagian laba atau rugi. Misalnya, konsep modal sebagai dasar pembagian laba atau rugi modal dapat merujuk pada istilah saldo modal awal, saldo modal akhir, atau saldo modal rata-rata. Selain itu, konsep modal akhir atau rata-rata perlu dijabarkan lebih lanjut apakah ditentukan sebelum atau sesudah perkiraan prive ditutup ke perkiraan modal sekutu.
 
Berikut disajikan ilustrasi atas pembagian laba dan rugi antara para sekutu.



Analisis varians

Penjelasan analisis varians atau analysis of variance (ANOVA) secara ringkas dapat mengguna...